Setia tak cuma-cuma

Cerita kita tidak berhenti saat kita patah hati. Pelan-pelan saja, karena sembuh itu perlu waktu yang tak bisa ditentukan jangkanya.

Sedikit mengulas tentang kisah seorang laki-laki yang ditinggal kekasihnya, laki-laki yang memang benar-benar mencintai setelah dia dipaksa untuk mencinta. Dia mengikuti alur yang ada. Sampai pada akhirnya dia memiliki perasaan cinta yang dalam, bahkan lebih dalam dari yang dia kira. Suatu ketika kekasihnya pergi tanpa sebab. Menghilangkan perasaan yang katanya pernah hinggap. Hinggap? Sungguh kata itu mengingatkan dia pada cicak yang hinggap ditembok, sementara saja. Sedangkan dirinya sudah punya rasa, dan harapnya rasa itu bukan sekedar hinggap, tapi menetap. Langit yang mendung maupun cerah baginya sama. Sama-sama membawa pilu. Tak ada yang istimewa, kecuali kehadiran kekasih yang dulu sempat ia punya (ini katanya). “apa sulitnya melupakan?” kata teman karibnya. Dirinya membatin “Ah, mudah sekali kalimat itu diucapkan, sedangkan ia tidak merasakan, ia juga belum bisa memaknai arti kesetiaan”. Laki-laki ini setia teman-teman, tapi perlu diketahui bahwa setianya pada orang yang salah, yang jelas-jelas sudah tega menyakiti. Jadi, kita yang perempuan jangan menganggap bahwa perempuan saja yang bisa menaruh cinta paling tulus dan yang berani berkomitmen untuk setia. Laki-laki juga ada yang demikian, setia yang setianya keterlaluan (uhuk).

Mau tahu kelanjutan cerita di atas? Nanti saja, kalau dia sudah menikah. Karena kalau belum, kemungkinan besar dia masih setia pada masa lalunya. Bucin ya jadinya? hehe. Teruntuk yang sedang patah hati, yang sedang berusaha untuk setia tapi berujung kecewa. Percayalah bahwa Allah punya rencana, jauh lebih baik dari yang kita kira. Allah menciptakan patah untuk dijadikan ibrah. Allah mengadirkan kecewa agar kita berbenah. Allah memberikan duka untuk bahagia. Dari semua-muanya, kita patut mensyukuri apa yang telah terjadi (macam lagi D’Masiv), dan kesetiaan terbaik adalah kesetiaanmu pada Islam.

Teringat kisah para sahabat yang setia pada Rasulallah SAW saat perang Uhud. Tatkala pasukan musyrikin mulai melakukan pengepungan, Rasulallah hanya ditemani sembilan orang. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwa Rasulallah SAW pada perang Uhud berada di tempat yang terpisah bersama tujuh orang Anshar dan dua orang Muhajirin. Ketika musuh telah mengepung, beliau bersabda, “Barangsiapa bersedia menjauhkan mereka dari kami maka dia masuk surga atau menjadi pendampingku di surga”. Maka seorang Anshar maju dan bertempur hingga gugur. Hal ini terus berulang hingga tujuh orang Anshar itu gugur. Pengawalnya tinggal dua orang Quraisy, yaitu Sa’ad bin Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Kendati cuma berdua, mereka berhasil menggagalkan keinginan orang-orang musyrik itu. Mereka memang dikenal sebagai pemanah-pemanah terbaik di kalangan bangsa arab. Mereka berjuang mati-matian hingga mampu menghalau orang-orang musyrik itu agar menjauh dari Rasulallah. Memang tak ada yang mustahil di dunia ini, saat perang Uhud, keduanya melawan banyak musuh. Thalah pun maju melawan sebelas orang musuh. (Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, terj. 2018: 309-311) 

Sungguh kesetiaan yang luar biasa. Para sahabat yang syahid untuk melindungi Rasulallah SAW, bukan hanya ingin setia di dunia, tapi juga ingin menjadi pendamping Rasulallah di surga. Kedua orang Muhajirin yang terluka parah itu karena tidak ingin orang yang dicintainya terluka. Haru rasanya, tak ada yang lebih indah dari membersamai atau bertetangga dengan Rasullah di surga.

Baik kawan, dari kedua cerita tesebut kita bisa mengambil pelajaran. Mana setia yang benar dan mana setia yang mesti diluruskan kembali. Selamat mencari kesetiaan, ingatlah kesetiaan yang abadi hanya setianya Allahu Rabbi. Kalau kita ingin setia pada Allah ta’ala, maka berdo’alah! pintalah kepada yang Maha Setia. Baarokallah

Semoga bermanfaat.

Komentar